TRANSPIRASI
Transpirasi
adalah hilangnya air dari tubuh-tumbuhan dalam bentuk uap melalui stomata,
kutikula atau lentisel. Ada dua tipe
transpirasi, yaitu (1) transpirasi kutikula adalah evaporasi air yang terjadi
secara langsung melalui kutikula epidermis; dan (2) transpirasi stomata, yang
dalam hal ini kehilangan air berlangsung melalui stomata. Kutikula daun secara relatif tidak tembus
air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar
10 persen atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh
karena itu, sebagian besar air yang hilang melalui daun-daun (Wilkins, 1989).
Kecepatan transpirasi berbeda-beda tergantung kepada jenis tumbuhannya.
Bermacam cara untuk mengukur besarnya transpirasi, misalnya dengan menggunakan
metode penimbangan. Sehelai daun segar atau bahkan seluruh tumbuhan beserta
potnya ditimbang. Setelah beberapa waktu yang ditentukan, ditimbang lagi.
Selisih berat antara kedua penimbangan merupakan angka penunjuk besarnya
transpirasi. Metode
penimbangan dapat pula ditujukan kepada air yang terlepas, yaitu dengan cara
menangkap uap air yang terlepas dengan dengan zat higroskopik yang telah
diketahui beratnya. Penambahan berat merupakan angka penunjuk besarnya
transpirasi (Tjitrosoepomo, 1998).
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya
gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di
bawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh
teriknya panas matahari karena melalui proses transpirasi, terjadi penguapan
air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui
proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan
fotosintesis agar kelangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin (Sitompul,
1995).
Transpirasi juga merupakan proses yang membahayakan kehidupan tumbuhan, karena kalau transpirasi melampaui penyerapan oleh akar, tumbuhan dapat kekurangan air. Bila kandungan air melampaui batas minimum dapat menyebabkan kematian. Transpirasi yang besar juga memaksa tumbuhan mengedakan penyerapan banyak, untuk itu diperlukan energi yang tidak sedikit. Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor dalam maupun faktor luar. Yang terhitung sebagaio faktor dalam adalah besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya stomata. Hala-hal ini semua mempengaruhi kegiatan trasnpirasi pada tumbuhan (Salisbury, 1992).
Transpirasi juga merupakan proses yang membahayakan kehidupan tumbuhan, karena kalau transpirasi melampaui penyerapan oleh akar, tumbuhan dapat kekurangan air. Bila kandungan air melampaui batas minimum dapat menyebabkan kematian. Transpirasi yang besar juga memaksa tumbuhan mengedakan penyerapan banyak, untuk itu diperlukan energi yang tidak sedikit. Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor dalam maupun faktor luar. Yang terhitung sebagaio faktor dalam adalah besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya stomata. Hala-hal ini semua mempengaruhi kegiatan trasnpirasi pada tumbuhan (Salisbury, 1992).
Kegiatan transpirasi secara langsung oleh tanaman dipandang lansung
sebagai pertukan karbon dan dalam hal ini transpirasi sangat penting untuk
pertumbuhan tanaman yang sedaang tumbuh menentukan banyak air jauh lebih banyak
daripada jumlah terhadap tanaman itu sendiri kecepatan hilangnya air tergantung
sebagian besar pada suhu kelembapan relatif dengan gerakan
udara. Pengangkutan garam-garam
mineral dari akar ke daun terutama oleh xylem dan secepatnya mempengaruhi oleh
kegiatan transpirasi. Transpirasi pada hakikatnya sama dengan penguapan, akan
tetapi istilah penguapan tidak digunakan pada makhluk hidup. Sebenarnya
seluruh bagian tanaman mengadakan transpirasi karena dengan adanya
transpirasi terjadi hilangnya molekul sebagian besar adalah lewat
daun hal ini disebabkan luasnya permukaan daun dan karena daun-daun itu
lebih terkena udara dari pada bagian lain dari suatu tanaman (Lakitan, 2007).
Stomata akan membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat (Dartius, 1991). Peningkatan
tekanan turgor oleh sel penjaga disebabkan oleh masuknya air kedalam sel
penjaga tersebut. Pergerakan air antar sel akan selalu dari sel yang mempunyai
potensi air lebih tinggike sel engan potensi lebih rendah. Tinggi rendahnya
potensi air sel tergantung pada jumlah bahan yang terlarut dari cairan tesebut,
semakin banyak bahan yang terlarut maka potensi yang terjadi pada sel semakin
rendah (Heddy, 1990).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi antara lain:
1.
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi mekanisme membuka dan
menutupnya stomata
2.
Kelembaban udara sekitar
3.
Suhu udara
4.
Suhu daun tanaman
(Guritno, 1995).
Angin dapat pula mempengaruhi laju transpirasi jika udara yang bergerak
melewati permukaan daun tersebut lebih kering (kelembaban nisbihnya rendah)
dari udara sekitar tumbuhan tersebut. Kerapatan uap air diudara tergantung dengan resisitensi
stomata dan kelembaban nisbih dan juga suku udara tersebut, untuk perhitungan
laju transpirasi. Kelembaban nisbih didalam rongga substomata dianggap
100%. Jika kerapatan uap air didalam rongga substomata sepenuhnya
tergantung pada suhu (Filter, 1991).
Daya hantar secara langsung dipengaruhi oleh besarnya bukaan stomata.
Semakin besar bukaan stomata maka daya hantarnya akan semakin tinggi. Pada
beberapa tulisan digunakan beberap istilah resistensi stomata. Dalam hubungan
ini daya hantar stomata berbanding dengan resistensi stomata (Dwijoseputro,
1983).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar